Membangun Sekolah yang Aman: SMA Kristen 1 Surakarta Gelar Pelatihan Anti-Bullying untuk Para Guru
oleh admin | 16 Maret 2026
Jumat siang itu, 13 Maret 2026, suasana Aula SMA Kristen 1 Surakarta terasa berbeda. Para guru berkumpul bukan untuk rapat rutian, melainkan untuk mengikuti In-House Training yang mengangkat tema serius namun dekat dengan keseharian mereka: "Optimalisasi Peran Pendidik dalam Pencegahan dan Penanganan Perundungan (Bullying) di Sekolah". Hadir sebagai pembicara, Ibu Ir. Monna Rahardjo, M.Pd.K., seorang konselor berpengalaman dari Griya Konseling Surakarta, siap membedah persoalan yang kerap menjadi "gunung es" di dunia pendidikan.
Dengan gaya bicara yang mengalir, Ibu Monna membuka sesi dengan menyentil hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian para pendidik. "Kadang kita tidak sadar, dua bentuk bullying yang paling sering terjadi justru yang paling sederhana: mengejek dengan memanggil nama orang tua teman, dan body shamming," ujarnya. Ia mengingatkan bahwa candaan seperti ini, jika dibiarkan, bisa meninggalkan luka yang dalam. Mengutip Efesus 2:10, ia menegaskan bahwa setiap pendidik sedang mempersiapkan anak-anak untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan sediakan. "Maka, membangun empati bukan pilihan, melainkan keharusan," pesannya.
Mengacu pada Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026, Ibu Monna menjelaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman secara fisik, psikis, dan sosial. Bukan hanya sekadar aturan, tetapi benar-benar terasa dalam keseharian. Ia memperkenalkan konsep psychological safety di kelas, di mana siswa merasa aman untuk berbicara, membuat kesalahan, bahkan menangis tanpa takut dihakimi. "Guru perlu menjadi pendengar yang baik, mengubah budaya humor yang merendahkan, dan mulai membangun komunitas kelas yang saling menjaga," tambahnya. Strategi pencegahan berbasis peer support juga disinggung sebagai cara jitu, karena anak-anak lebih mudah terbuka kepada teman sebayanya.
Tak hanya membahas pencegahan, Ibu Monna juga memaparkan langkah konkret jika perundungan sudah terjadi. Bagi korban, sekolah wajib hadir melindungi, menjaga kerahasiaan, dan memberikan pendampingan psikologis. Sementara bagi pelaku, pendekatan edukatif menjadi kunci. "Bukan sekadar menghukum, tapi membangun kesadaran, menggali motif, dan melibatkan orang tua dalam proses pembinaan," jelasnya. Jika sudah masuk ranah pidana, tentu ada jalur hukum yang harus ditempuh, namun tetap dengan tetap mengedepankan kepentingan terbaik anak.
Acara yang berlangsung hingga sore hari itu ditutup dengan suasana hangat. Kepala Sekolah, Bapak Kandhi Purnomo, S.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Monna. "Terima kasih atas materi yang sangat membuka wawasan kami," ucapnya. Sebagai langkah nyata, sekolah resmi membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan yang beranggotakan Pak Supardjo (Waka Humas), Ibu Ratih Kusumawardhani (Guru Bahasa Indonesia), Ibu Arnindyas Angelaria (Guru PKn), dan Pak Bonifacio Yanuar (Guru BK). Dengan tim ini, harapannya SMA Kristen 1 Surakarta benar-benar menjadi rumah kedua yang nyaman, aman, dan ramah bagi setiap siswa.